MENGURANGI RESIKO BENCANA LETUSAN GUNUNG BERAPI

Jum`at, 29 Mei 2015 09:06:04 - Oleh : BPBD Kulon Progo

Letusan gunung berapi adalah bagian dari aktivitas vulkanik yang disebut erupsi. Hampir semua kegiatan gunung api berkaitan dengan zona kegempaan aktif. Erupsi dimulai ketika pada batas lempeng bumi terjadi perubahan tekanan dan suhu yang sangat tinggi sehingga mampu melelehkan material disekitarnya, yaitu cairan pijar ( atau magma ).
Magma akan mengintrusi batuan atau tanah melalui rekahan-rekahan, lalu keluar mendekati permukaan bumi.

Bahaya letusan gunung berapi dibagi menjadi dua berdasarkan waktu kejadiannya, yaitu bahaya primer dan sekunder.

Berikut enam bahaya primer dari letusan gunung berapi :
• Awan panas : merupakan campuran material letusan antara gas dan bebatuan (segala ukuran) yang terdorong ke bawah akibat densitas tinggi. Suhu mencapai 300 - 700 derajat celcius, kecepatan awan panas lebih dari 70 km/jam.
• Lontaran material (pijar) : terjadi ketika letusan magmatic berlangsung. Suhu mencapai 200 derajat celcius, diameter lebih dari 10 cm dengan daya lontar ratusan kilometer. Lazim juga disebut sebagai bom vulkanik
• Hujan abu lebat : terjadi ketika letusan gunung api sedang berlangsung. Material berukuran halus ( abu dan pasir halus ) yang diterbangkan angina dan jatuh sebagai hujan abu arahnya tergantung dari arah angin.
• Lava ; merupakan magma yang mencapai permukaan. Sifatnya liquid dengan suhu antara 700- 1200 derajat celcius. Lava mengalir mengikuti lereng dan akan membatu bila telah dingin.
• Gas racun : muncul tidak selalu didahului oleh letusan gunung api sebab gas ini dapat keluar melalui rekahan-rekahan. Gas utama yang biasanya muncul adalah CO2, H2S, HCl, SO2, dan CO.
• Tsunami : kasus khusus yang terjadi pada gunung berapi di pulau. Saat letusan terjadi, material-material akan memberikan energy yang besar untuk mendorong air laut ke arah pantai. Contoh kasusnya adalah letusan Gunung Krakatau di tahun 1883.

Sedangkan bahaya sekunder setelah gunung api meletus adalah penumpukan material bumi yang terbawa oleh air hujan berupa lahar, lumpur, dan banjir bebatuan.

Untuk mengurangi dampak dari kejadian letusan gunung berapi, pemerintah melakukan kegiatan preventif berupa pemantauan aktivitas gunung api selama 24 jam menggunakan alat pencatat gempa (seismograf); melakukan tindakan tanggap darurat; dan membuat Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Berapi.

Sebagai langkah persiapan, bagi yang tinggal di sekitar gunung berapi :
• Membuat rencana penyelamatan dan komunikasi bagi keluarga untuk menghadapi resiko terjadinya letusan gunung berapi
• Kenali gunung api aktif di sekitar anda, dan tentukan lokasi pengungsian yang aman bagi anggota komunitas anda.

Apabila letusan Gunung berapi terjadi di area anda, hal-hal yang harus dilakukan adalah :
• Gunakan masker atau kain untuk menutupi mulut dan hidung
• Kenakan pakaian yang bisa melindungi tubuh seperti: baju lengan panjang, celana panjang, topi dan lainnya.
• Jangan memakai lensa kontak
• Apabila sedang berada di dalam ruangan, tutup pintu dan jendela. Segera mengungsi dan bantu anggota di komunitas anda untuk turut mengungsi dengan aman
• Apabila sedang berada di tempat terbuka, lindungi diri dari abu letusan dan awan panas
• Hindari daerah rawan bencana seperti lereng gunung, lembah dan daerah aliran lahar
• Ikuti petunjuk penyelamatan dari petugas selama proses evakuasi
• Persiapkan diri untuk kemungkinan bencana susulan

Hal-hal yang harus anda lakukan setelah terjadi letusan gunung berapi adalah :
• Tetap dipengungsian hingga petugas menyatakan aman untuk kembali ke rumah anda
• Bersihkan atap dari timbunan abu karena berat abu bisa merusak atau meruntuhkan atap bangunan
• Ikuti perkembangan informasi mengenai keadaan packa bencana dari media petugas di sekitar anda

 

« Kembali | Kirim | Versi cetak