SEJARAH TARUNA AGNI KULON PROGO

TUJUAN

Tujuan pembentukan komunitas Taruna Agni adalah untuk mempercepat proses pelayanan penanggulangan bencana kebakaran, terutama di daerah-daerah yang berada di luar jangkauan normal Damkar Kulon Progo.

MANFAAT YANG DIPEROLEH

Beberapa manfaat yang diperoleh dari Komunitas Taruna Agni adalah :

  1. Percepatan pelayanan kedaruratan bencana kebakaran
  2. Peningkatan peran masyarakat dalam penanggulangan bencana kebakaran
  3. Peningkatan kapasitas masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana kebakaran

HASIL

Komunitas Taruna Agni diharapkan daat menghasilkan :

  1. Peningkatan Pelayanan Perlindungan Masyarakat khususnya terhadap bencana kebakaran;
  2. Perwujudan peningkatan ketentraman dan keamanan masyarakat;
  3. Mendorong kepedulian masyarakat untuk aktif berpartisipasi dalam penanggulangan bencana kebakaran, baik dalam pencegahan, kesiapsiagaan, evakuasi / pemadaman kebakaran dan pasca kebakaran.

 WAKTU UJI COBA

Inovasi Daerah diuji coba mulai 04-08-2018 dengan ditandai penanganan penanggulangan bencana kebakaran di JOGOBAYAN RT 17 / RW 09, Banjararum Kalibawang.  Masyarakat peduli bencana bahu membahu memadamkan api sebelum damkar Kulon Progo datang.

WAKTU IMPLEMENTASI

Melihat kebutuhan akan pentingnya masyarakat peduli bencana kebakaran, tanggal 02-01-2019 ditetapkan pembentukan Taruna Agni Kabupaten Kulon Progo untuk mewadai kelompok tersebut agar dapat mendapat perhatian dari Kabupaten Kulon Progo.

RANCANG BANGUN DAN POKOK PERUBAHAN YANG DILAKUKAN

Gambaran Umum

Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu kabupaten dari lima kabupaten/kota di Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak di bagian barat. Batas Kabupaten Kulon Progo di sebelah timur yaitu Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman, di sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Purworejo, Propinsi Jawa Tengah, di sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah dan di sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Hindia.

Kabupaten Kulon Progo memiliki topografi yang bervariasi dengan ketinggian antara 0 - 1000 meter di atas permukaan air laut, yang terbagi menjadi 3 wilayah, yaitu Bagian Utara merupakan dataran tinggi/perbukitan Menoreh dengan ketinggian antara 500 1000 meter di atas permukaan air laut, meliputi Kecamatan Girimulyo, Kokap, Kalibawang dan Samigaluh. Wilayah ini penggunaan tanah diperuntukkan sebagai kawasan budidaya konservasi dan merupakan kawasan rawan bencana tanah longsor, bagian tengah merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian antara 100 500 meter di atas permukaan air laut, meliputi Kecamatan Nanggulan, Sentolo, Pengasih, dan sebagian Lendah, wilayah dengan lereng antara 2-15%, tergolong berombak dan bergelombang merupakan peralihan dataran rendah dan perbukitan. Bagian selatan merupakan dataran rendah dengan ketinggian 0-100 meter di atas permukaan air laut, meliputi Kecamatan Temon, Wates, Panjatan, Galur, dan sebagian Lendah. Berdasarkan kemiringan lahan, memiliki lereng 0-2%, merupakan wilayah pantai sepanjang 24,9 km, apabila musim penghujan merupakan kawasan rawan bencana banjir.

Luas wilayah Kabupaten Kulon Progo adalah 58.627,54 hektar, secara administratif terbagi menjadi 12 kecamatan yang meliputi 88 desa dan 930 dusun. Penggunaan tanah di Kabupaten Kulon Progo, meliputi sawah 10.732,04 Ha (18,30%); tegalan 7.145,42 Ha (12,19%); kebun campur 31.131,81 Ha (53,20%); perkampungan seluas 3.337,73 Ha (5,69%); hutan 1.025 Ha (1,75%); perkebunan rakyat 486 Ha (0,80%); tanah tandus 1.225 Ha (2,09%); waduk 197 Ha (0,34%); tambak 50 Ha (0,09%); dan tanah lain-lain seluas 3.315 Ha (5,65%).

Kabupaten Kulon Progo dilewati oleh 2 (dua) prasarana perhubungan yang merupakan perlintasan nasional di Pulau Jawa, yaitu jalan Nasional sepanjang 28,57 km dan jalur Kereta Api sepanjang kurang lebih 25 km. Ditambah lagi di saat ini di Kabupaten Kulon Progo terdapat Bandara Internasional Yogyakarta International Airport.

Permasalahan Pelayanan Pemadaman Kebakaran

Pertumbuhan pemukiman, industri, dan kawasan strategis lainnya di Kulon Progo harus di imbangi dengan peningkatan pelayanan pertolongan bahaya kebakaran. Berkaca dari tantangan yang ada, ternyata pelayanan pertolongan bahaya kebakaran masih memiliki banyak pekerjaaan rumah untuk diselesaikan. Banyak hal yang harus dilakukan untuk meningkatkan profesionalitas pelayanan dasar pertolongan bahaya Kebakaran mencapai pelayanan pertolongan bencana kebakaran.

Kondisi saat di Kabupaten Kulon Progo baru terdapat 1 Pos Pemadam Kebakaran dengan 2 unit mobil damkar dan 17 petugas PBK untuk mengampu pelayanan seluruh wilayah Kulon Progo seluas 58.627,54 hektar dalam 24 jam/hari.

Pemenuhan mutu pelayanan penyelamatan dan evakuasi korban kebakaran di kabupaten/kota dicapai melalui capaian tingkat waktu tanggap (response time) penanggulangan kejadian kebakaran. Response time yang ditetapkan adalah 15 menit sejak di diterimanya laporan sampai datang ke lokasi kejadian dan siap memberikan layanan.

 

Inovasi Yang Dilakukan

Keterbatasan Pos Pemadam Kebakaran yang ada  dengan personill yang terbatas, mengharuskan BPBD untuk dapat mencari alternatif dalam penanggulangan kebakaran. Dalam konsep kebencanaan, bahaya akan berkurang apabila kapasitas masyarakat ditingkatkan. Berangkat dari hal tersebut BPBD Kabupaten Kulon Progo mulai Tahun Anggaran 2013 melaksanakan kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat dalam penanggulangan kebakaran. Kegiatan ini diwujudkan melalui sosialisasi dan simulasi pemadaman kebakaran di desa-desa dengan potensi kebakaran tinggi.  Sampai saat ini telah ada 26 desa yang tersosialisasi dan tersimulasi pemadaman kebakaran. Selain itu BPBD juga melayani permintaan simulasi baik dari kelompok masyarakat maupun lembaga usaha.

Peningkatan pemahaman dan perilaku masyarakat terhadap bencana kebakaran membuat masyarakat tahu apa yang harus dilakukan saat terjadi kebakaran. Kebanyakan mereka sudah tidak panik dan dapat melaksanakan pertolongan pertama bahaya kebakaran sebelum PBK Kabupaten Kulon Progo datang ke lokasi.

Meningkatnya pemahaman masyarakat membuat sekelompok masyarakat aktif berperan serta dalam upaya penanggulangan bencana kebakaran. Untuk menampung aspirasi kelompok masyarakat yang aktif tersebut, maka pada tanggal 2 Januari 2019, dibentuk satuan relawan kebakaran Kabupaten Kulon Progo dengan SK Kepala Pelaksana BPBD No. 17 Tahun 2019, dengan sebutan “Taruna Agni” Kabupaten Kulon Progo. Unsur dari Taruna Agni dibentuk dari relawan kebencanaan yang telah ada dan personil tersebut aktif dalam setiap kejadian bencana.

Taruna Agni sebagian besar berasal dari unsur relawan di bagian utara Kulon Progo meliputi Kecamatan Kalibawang dan Samigaluh, mengingat selama ini saat ada kejadian kebakaran diwilayah utara, Petugas Damkar Kulon Progo tiba di lokasi kejadian selalu lebih dari “response time” (15 menit), karena faktor jarak tempuh yang sangat jauh (kurang lebih 40 km) dan topografi medan yang sulit.

Taruna Agni dibekali dengan kemampuan dasar pemadaman menggunakan alat dan bahan yang ada di lingkungan sekitar, melalui bimbingan /sosialisasi khusus. Relawan Kebakaran berperan aktif dalam setiap kejadian kebakaran yang ada diwilayahnya.

Prestasi yang pernah diperoleh Taruna agni adalah Juara 1 Lomba Relawan Kebakaran Tingkat Jateng-DIY tahun 2019 yang dilaksanakan dalam rangka Peringatan HUT Damkar Nasional ke-101 di Kabupaten Bantul.

Selain hal tersebut, melalui upaya formal, BPBD Kulon Progo merencanakan BPBD menambah pos pemadam kebakaran serta kelengkapannya di Kabupaten Kulon Progo dengan mempertimbangakan aspek pelayanan dan geografis (Direncanakan  untuk mengampu 5 kecamatan di wilayah utara : Sentolo, Nanggulan, Girimulyo, Kalibawang, Samigaluh, untuk mendukung taruna agni yang telah aktif di wilayah tersebut).

ANGGARAN

Anggaran pembinaan ada pada DPA BPBD Kulon Progo Tahun 2020 dan 2021.